×

Langganan Artikel Bukit Buku

Apa itu Climate Fiction?

Apa itu Climate Fiction?

Diskusi mengenai perubahan iklim selama ini banyak disampaikan melalui laporan ilmiah, statistik, dan analisis kebijakan. Namun, pemahaman publik tentang krisis iklim tidak selalu lahir dari data semata. Cerita, imajinasi, dan narasi memiliki peran penting dalam membantu manusia memahami skala perubahan yang sedang terjadi. Menanggapi situasi tersebut, muncul berbagai cara untuk membicarakan krisis iklim melalui pendekatan yang lebih naratif. Salah satu yang semakin mendapat perhatian adalah climate fiction atau cli-fi.

Cli-fi merupakan singkatan dari climate fiction, yaitu karya fiksi yang menempatkan perubahan iklim sebagai bagian utama dari dunia yang diceritakan. Dalam banyak kisah cli-fi, dunia digambarkan sedang menghadapi perubahan lingkungan yang besar atau telah berubah sepenuhnya akibat krisis iklim. Genre ini berkembang dari tradisi fiksi ilmiah yang sering pula memadukan unsur realisme dan pengalaman manusia sehari-hari.

Istilah cli-fi mulai dikenal luas pada dekade 2010-an ketika perbincangan tentang perubahan iklim semakin ramai di ruang publik. Meski demikian, gagasan tentang cerita yang berkaitan dengan krisis lingkungan sebenarnya telah muncul jauh sebelumnya.

Kolumnis theguardian.com, Rebecca Solbit baru-baru ini menulis artikel panjang tentang pentingnya cerita-cerita iklim untuk membangunkan kesadaran. Ia menegaskan, kita masih kekurangan cerita yang memberi konteks. Sebagai contoh dalam skala global, pabrik bahan bakar fosil membunuh hampir 9 juta orang setiap tahunnya—jumlah kematian yang lebih besar daripada perang—tetapi jumlah korban tewas itu sebagian besar tidak terlihat karena kurangnya cerita yang menarik tentangnya.

Karya cli-fi biasanya memiliki beberapa ciri yang cukup khas. Alur cerita sering bergerak cepat dan dipenuhi situasi krisis. Latar cerita mengalami perubahan drastis, mulai dari kota yang terendam air laut hingga ekosistem yang runtuh akibat perubahan lingkungan. Suasana cerita juga sering menghadirkan rasa cemas dan ketidakpastian terhadap masa depan. Dalam banyak kisah cli-fi, perubahan iklim tidak diselesaikan oleh satu tokoh heroik seperti dalam cerita petualangan. Krisis iklim merupakan persoalan yang melibatkan banyak faktor mulai dari sosial, ekonomi, dan politik. Berdasarkan hal tersebut banyak cerita cli-fi menempatkan pengalaman emosional manusia sebagai pusat narasi ketika menghadapi perubahan lingkungan yang besar.

Melalui pendekatan cerita, cli-fi mampu memperlihatkan dampak perubahan iklim secara lebih konkret. Kenaikan suhu global sebesar satu atau dua derajat mungkin terdengar kecil ketika disampaikan melalui angka statistik. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih terasa ketika digambarkan melalui kisah tentang kota yang tenggelam, komunitas yang kehilangan ruang hidup, atau manusia yang harus beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.

Cerita-cerita cli-fi juga membantu membangun hubungan emosional antara pembaca dan masa depan. Ketika pembaca mengikuti pengalaman tokoh dalam menghadapi perubahan iklim, mereka mulai membayangkan kemungkinan masa depan mereka sendiri. Imajinasi semacam ini dapat membuka ruang refleksi sekaligus memperluas kesadaran tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks tersebut, cli-fi menghadirkan cara lain untuk membicarakan krisis iklim. Narasi fiksi membuat persoalan yang sering terasa jauh dan abstrak menjadi lebih dekat dengan pengalaman manusia. Melalui cerita, pembaca diajak membayangkan dunia yang berubah sekaligus mempertanyakan bagaimana manusia memilih untuk merespons perubahan tersebut.

Selain sebagai medium refleksi, climate fiction juga berfungsi sebagai ruang eksperimen imajinasi. Penulis dapat membayangkan berbagai kemungkinan masa depan—baik yang suram maupun yang penuh harapan—tanpa terikat sepenuhnya pada batasan ilmiah yang kaku. Dari sini cli-fi tidak hanya menghadirkan peringatan, tetapi juga membuka kemungkinan tentang cara manusia beradaptasi, bertahan, bahkan memperbaiki hubungan dengan lingkungan.

Perkembangan cli-fi juga menunjukkan bahwa sastra memiliki peran penting dalam percakapan global tentang krisis iklim. Ketika data dan laporan terasa jauh, cerita mampu menjembatani jarak tersebut. Pembaca tidak hanya menjadi paham tapi juga merasakan. Dari rasa itulah, kesadaran sering kali tumbuh lebih dalam dan bertahan lebih lama.

Dengan demikian climate fiction bukan sekadar genre sastra, melainkan cara lain untuk melihat, merasakan, dan memikirkan ulang hubungan manusia dengan bumi. Melalui cerita, krisis iklim tidak lagi terasa asing. Cerita menjadi hadir sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dipahami dan direspons bersama.

Bagi kalian yang masih asing dengan genre fiksi semacam ini dan ingin mengetahuinya lebih jauh, bagaimana cli-fi itu bekerja. Silahkan, kalian bisa mengunjungi katalog produk-produk kami ya! Selamat membaca.

 

Redaksi

Footer