×

Langganan Artikel Bukit Buku

Apa itu Krisis Iklim?

Apa itu Krisis Iklim?

Pernah merasa cuaca makin sulit ditebak? Pagi panas menyengat, sore tiba-tiba hujan deras, atau sebaliknya. Musim seperti bergeser tanpa pola yang jelas. Fenomena seperti ini bukan kebetulan yang datang sesekali. Ada sesuatu yang sedang berubah secara drastis dan kita ada di dalamnya. Itulah yang disebut sebagai krisis iklim.

Krisis Iklim, “we guess” situasi kita Sekarang. Situasi, di mana sistem yang memengaruhi kehidupan kita (ekonomi, politik, dan gaya hidup) membawa kita ke dalam kehancuran. Sistem yang memaksa manusia untuk hidup lebih konsumtif dengan ekploitasi besar-besaran terhadap bumi—satu-satunya tempat hidup kita. Hal ini karena kita lupa atau mungkin dipaksa untuk lupa tentang identitas utuh manusia sebagai bagian dari satu kesatuan ekosistem. Sehingga, sebagian kecil manusia bisa menggunakan sistem kapitalistik ini untuk mengeruk kekayaan dirinya sendiri sampai bumi tidak bisa menampung aktivitasnya lagi. Bencananya makin parah, cuaca ekstrem, iklim enggak stabil, dan tentunya dunia semakin kacau.

Hal-hal itu terasa dekat karena memang menggambarkan realitas hari ini. Cara hidup yang terus mendorong konsumsi tanpa henti pelan-pelan menggerus keseimbangan alam. Alam diperlakukan seperti sumber yang tidak akan habis. Padahal daya dukungnya ada batasnya. Saat batas itu terlewati, dampaknya mulai terasa di mana-mana.

Krisis iklim dapat juga dikatakan sebagai krisis pararel kompleks, sebab dapat meningkatkan ketidaksetaraan, ketidakadilan, bahkan mencetus perang akibat kerusakan lingkungan.  Adanya pemanasan global sangat berdampak buruk di kehidupan sekarang, bahkan di masa-masa yang akan datang. Bukti nyata adanya kebakaran hutan, cuaca ekstrem, penurunan keanekaragaman hayati, penurunan muka air tanah, dan banjir rob bukanlah sebuah deretan angka-angka sebagai data semata. Itu semua, mungkin akan menjadi neraka di masa depan yang terjadi pada tahun 2050.

Jika tidak ada penanganan serius, efeknya mungkin akan lebih cepat dan lebih parah dari yang diprediksikan. Selama beberapa dekade terakhir, berbagai laporan ilmiah telah memperingatkan bahwa perubahan iklim membawa dampak serius bagi kehidupan manusia dan lingkungan.

Apa yang disebut sebagai data sebenarnya adalah kejadian nyata yang dialami banyak orang. Hutan terbakar bukan sekadar statistik. Banjir rob bukan hanya grafik kenaikan air laut. Semua itu adalah pengalaman hidup yang pelan-pelan mengubah cara manusia bertahan.

Krisis iklim juga memperlihatkan bahwa dampaknya tidak merata. Ada kelompok yang lebih cepat merasakan akibatnya. Terutama mereka yang hidup dekat dengan alam dan bergantung langsung pada lingkungan. Ketimpangan ini membuat krisis iklim menjadi persoalan yang lebih luas dari sekadar isu lingkungan.

Kita perlu mulai menyadari bahwa ‘kita manusia’ bukan pusat dari segalanya. Kita adalah bagian dari sistem yang saling terhubung. Apa yang dilakukan hari ini akan kembali dalam bentuk lain. Entah cepat atau lambat. Kesadaran itu mungkin terasa sederhana tapi bisa menjadi sebuah perubahan. Pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari, cara memandang alam, hingga keputusan yang lebih besar dalam skala sosial, semuanya punya peran!

Krisis iklim tidak sedang menunggu di masa depan. Krisis iklim sudah berlangsung sekarang, diam-diam maupun terang-terangan. Pertanyaannya pun mulai bergeser, dari apakah ini nyata atau tidak? Menjadi seberapa jauh kita mau memahami dan meresponsnya.

Respons itu tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kesadaran sederhana tentang bagaimana kita hidup sehari-hari sudah menjadi awal yang berarti. Cara kita mengonsumsi, menggunakan sumber daya hingga memperlakukan lingkungan sekitar perlahan membentuk arah perubahan yang lebih luas. Setiap pilihan membawa konsekuensi dan setiap kesadaran membuka kemungkinan bbaru

Krisis iklim akhirnya tidak hanya berbicara tentang ancaman. Krisis iklim juga membahas tentang bagaimana manusia memilih untuk tetap bertahan dan memperbaiki hubungan dengan bumi yang selama ini menopang kehidupannya.

 Redaksi

Footer