Nadhila Hibatul Nastikaputri
Bulir-bulir keringat yang membasahi dahi kuseka. Ayunan Blangkah makin kuperpanjang. Bahkan adakalanya aku harus menyeret kaki karena keduanya terlalu enggan untuk diajak menapak kembali. Bagaimanapun juga, saat ini mereka harus tegak menopang badan, setidaknya demi menahan diri dari kelimbungan. Sebab, perjalanan ini belum mencapai separuhnya. Kira-kira, aku harus berjalan dua kilometer lagi untuk mencapai belik air yang beberapa hari lalu ditemukan seorang warga di dusun kami. Maka, aku terus mengayun langkah, membawa tiga buah jeriken kosong, sekerat harapan, dan rasa kering yang menggigit kerongkongan.
Gugur daun jati bertumpuk menutupi separuh jalan setapak putih yang kulewati. Sesekali angin berembus pelan, menebarkan hawa kering, menerbangkan dedaunan kuning kecoklatan yang terserak tak berdaya di tanah rekah itu. Pelan tapi pasti, aku terus menapak menembus hutan jati, menimbulkan suara gemerisik daun yang terinjak kaki. Ketika mencapai area tegalan, langkahku terhenti. Di sana, di hadapanku, bukit kapur yang tinggi menjulang itu, kini hanya tersisa seperempatnya. Terang saja demikian, sudah hamper tiga tahun perusahaan tambang batu gamping dari orang-orang kota mengangkangi dusun kami. Siang dan malam, mereka tak hen mengeruk gugusan bukit kapur yang mengitari dusun ini.
Menurut selentingan kabar yang kudengar dari bisik-bisik warga, izin perusahaan tambang itu sudah habis setahun lalu. Namun, nyatanya sampai saat ini, alat-alat berat mereka masih terus menggerus bukit kami. Meski begitu, aku dan warga dusunku tetap membisu. Kami pura-pura menutup mata atas kejanggalan yang kami dapati. Bukan berarti kami terima. Dari sejumlah mahasiswa dan pegiat lingkungan yang pernah menyambangi dusun ini, kami menjadi paham jika penambangan gamping yang berlebihan dapat membuat air tanah sulit tersimpan. Jadi, pendek kata kami membisu bukan karena setuju, tapi karena kami tak punya pilihan. Sebab kami sama-sama menyadari bahwa perusahaan tambang gamping itulah yang menjadi denyut kehidupan bagi hampir seluruh warga di dusun ini.
Andaikata Mbah Kakung tidak bekerja di sana, sudah barang tentu aku turut serta aksi demo serombongan aktivis yang menyuarakan penutupan perusahaan tambang itu. Akan tetapi, aku bahkan merasa tak berhak untuk sekadar membenci pemilik tambang yang telah memberi pekerjaan pada kakekku. Terkadang, Ketika membayangkan kami sekeluarga tak bisa makan karena tak punya pemasukan, hatiku menjadi ngilu. Maka begitulah, selama tiga tahun, aku dan warga dusunku tetap membisu.
Firman baru saja menyorongkan mobil-mobilannya manakala aku tiba di teras rumah. Anak berusia dua tahun itu tersenyum melihatku kembali menenteng tiga jeriken penuh air. Tangan kecilnya serta merta mengulur mobil berukuran mini yang dibawanya kepadaku. Aku menggeleng, menyimpul senyum, mengusap kepalanya, “Sebentar ya dik, Mba Ayom ngisi bak dulu. Nanti ya mainnya.”
Ia mengangguk, sama sekali tidak memprotes, lalu Kembali memainkan mobil mainannya seorang diri.
Aku bersicepat membawa jeriken-jeriken air ke belakang rumah. Air dari jeriken-jeriken lantas dituang ke bak penampungan. Aku menelan ludah, air yang kuperoleh dengan susah payah ini sebetulnya jauh dari kata layak. Warnanya keruh, bercampur dengan tanah dan butiran pasir dari dasar belik. Tapi mau bagaimana lagi, hanya air ini yang tersisa. Musim kemarau telah berjalan hampir dua bulan. Semakin hari, mencari air di sini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sulit sekali.
Barangkali, letak dusun ini yang berada di ujung kabupaten dan berada di wilayah perbatasan dengan provinsi lain, menjadi alasan dropping air dari pemerintah tidak kunjung datang. Mungkin juga kondisi jalan yang masih berupa setapak menyulitkan truk-truk tangka pemerintah mengirim air ke dusun kami. Begitu kira-kira, aku menerka. “Tadi kamu dapat air di telaga?” suara berat laki-laki menyadarkanku dari lamunan.
Aku menoleh, Mbah Kakung sudah berdiri di sampingku.
“Tidak, Kung. Di Telaga sudah benar-benar tidak ada air. Telaganya sudah asat, habis airnya. Aku mencarinya di belik ujung desa. Sumber baru yang kemarin ditemukan istri Pak Kepala Dusun.”
Laki-laki tujuh puluhan itu mengulum senyum, “Syukurlah masih ada air untuk kita.”
“Tapi, Kung, aku tak bisa memastikan sampai kapan air di belik itu terus ada. Air ini saja hanya dapat sisa. Semoga air gratis dari pemerintah itu segera datang.”
Kudengar helaan napas berat dari kakekku. “Begini ya, Ndhuk. Kakung tidak tahu pasti kapan dropping air dari kabupaten akan datang. Yang jelas, sebisa mungkin kita harus dapat air bersih. Kamu tahu, to, Firman tidak boleh minum air kotor lagi.”
Aku mengangguk, mengamini apa yang dikatakan kakekku itu.
Firman, adikku, memang harus selalu diberi air minum steril saat ini.
Semenjak ia terserang disentri, asupan makanan dan kebersihan
lingkungannya perlu diperhatikan. Kira-kira itulah yang dikatakan seorang dokter empat hari lalu ketika kami membawa Firman berobat ke Puskesmas.
“Apa tadi Firman masih diare, Kung? Kulihat dia sudah bisa bermain di depan.”
“Alhamdulillah, tidak lagi. Semoga adikmu betul-betul sembuh kali ini.”
“Ya, semoga begitu.”
“Tapi, Ndhuk, andaikata adikmu nanti kambuh lagi, mau tidak mau kita harus membawanya ke rumah sakit di kabupaten. Itu saran dari Bu Dokter kemarin di Puskesmas.”
Kepalaku terangguk kembali. “Iya, Kung. Aku mengerti.”
“Ayom?”
“Iya, Kung?”
“Air di bak penampungan hujan kita sudah habis. Satu-satunya telaga harapan kita juga sudah asat. Lalu katamu, air di belik baru juga sudah keruh. Jadi, kalau dalam beberapa hari ini air bersih dari pemerintah itu ndak datang, keputusan itu harus tak ambil, Ndhuk. Mau tidak mau Kakung harus jual wedhus kita untuk bisa sewa tangki air dari tetangga.”
Garis keningku seketika bertaut, “Jangan dulu, Kung. Tunggu beberapa hari lagi. Jangan buru-buru ambil keputusan begitu.”
“Ndak bisa, Ndhuk. Kasihan adimu. Dia harus dapat air bersih.”
“Tapi, tapi, kambing itu tinggal satu. Kemarin Kakung sudah menjual satu kambing kita untuk menutup gagal panen.”
“Seandainya, sewa tangki air dari tetangga kita itu bisa lebih murah. Seandainya air gratis itu cepat datang. Tentu Simbah ndak akan menjualnya. Tapi tidak ada pilihan lain sekarang.” Suara Kakung mengambang. Ada kegetiran yang kutangkap dari kata-katanya.
“Percaya Kung, percayalah. Aku punya keyakinan minggu ini air gratis itu akan sampai di dusun kita.”
“Tapi kapan? Dua, tiga, empat, lima hari? Apa Firman selama menunggu juga mau kita beri air keruh itu lagi? Begitu ya, maumu? Aku tertunduk, “Bukan, bukan begitu. Hanya saja, bukankah kambing itu peninggalan Bapak?”
“Oh, jadi kamu lebih mementingkan laki-laki yang kepincut sundal itu ketimbang adikmu? Orang yang jelas-jelas membuat ibumu sengsara, kamu masih peduli padanya? Kamu sudah lupa bagaimana dia tega meninggalkan kamu dan ibumu yang tengah hamil tua? Iya, ha?!”
Tenggorokanku tercekat. Lidahku terasa kelu untuk menjawab pertanyaan terakhir dari kakekku. Untuk beberapa detik hanya desau angin yang menyahut di antara percakapan kami yang terhenti. Kebisuan kami tetiba buyar oleh suara tangis dari dalam rumah. Firman menangis. Disusul teriakan perempuan memanggil-manggil. Dari suaranya aku tahu itu panggilan dari nenekku. Mbah Kakung berlari masuk ke dalam rumah, aku mengikutinya.
Kulihat nenek berusaha membopong Firman. Tapi ia urung setelah melihatku muncul bersama Mbah Kakung. Adikku itu meringkuk memegangi perut, ia mengerang. Aku meraih tubuhnya. Ketika kugendong Firman terasa semakin berat, kaki dan tangannya terasa dingin, wajahnya pucat pasi. Kubawa Firman menuju kamar mandi. Betul, ternyata dia diare lagi. Saat hendak mengguyur kudapati cairan merah segar berceceran di kloset. “Ya Tuhan!” aku berteriak memanggil Mbah Kakung dan Mbah Putri.
***
Lekat-lekat kuamati satu-satunya kambing peninggalan Bapak yang tengah merumput di tanah lapang. Pandanganku terpaku padanya yang terus mengunyah rerumputan kuning bersemu kecokelatan. Sejak tadi, aku tidak berhenti menimbang-nimbang. Apakah kambing ini akan tetap menjadi harta simpanan kami atau akan menjadi milik tetanggaku. Masalahnya bukan hanya sewa tangki air saja kali ini. Sudah dua hari ini Firman dirawat di rumah sakit kabupaten. Adikku itu terus-terusan merintih sejak dibawa ke sana. Disentri yang ia derita sepertinya membuat tubuh anak itu semakin layu saja.
Kepalaku seketika terasa berdenyut-denyut. Aku duduk bersila dan mengatur napas. Kusandarkan punggung pada batang randu yang tumbuh rimbun di sudut lapangan. Pandang kulayangkan jauh ke depan.
Dari arah seberang, mataku menangkap dua truk tangki berjalan beriringan. Sepertinya kendaraan besar dengan selang raksasa itu benar-benar dropping air dari kabupaten. Aku bangkit lantas gegas menyeimbangkan badan. Bila ingin mendapat jatah air mencukupi aku harus bergerak cepat. Jangan sampai tetanggaku menyerbu terlebih dahulu dan aku hanya mendapatkan sisa. Maka, detik itu juga, setelah memastikan tali dadung yang mengikat leher kambingku aman, aku melesat ke rumah.
Dering ponsel terdengar saat aku mengambil jeriken-jeriken di belakang rumah. Kurasa panggilan telepon itu tidak lebih penting dari tugasku saat ini untuk mengambil jatah air. Maka kubiarkan ponsel itu terus berdering sampai aku mengunci pintu rumah.
***
Empat buah jeriken yang kubawa telah terisi air dari truk-truk tangki kabupaten. Aku meletakkan jeriken-jeriken itu di belakang rumah. Kata Kepala Dusun, lusa truk tangki air dari pemerintah akan datang lagi ke dusun kami. Bagiku, air yang kuperoleh hari ini cukup untuk persediaan Firman bila nanti ia dibawa pulang ke rumah. Setidaknya, cukup sampai dropping air itu ada lagi. Dan itu artinya, kambing peninggalan Bapak juga tidak perlu berpindah tangan ke orang lain.
Ponselku berdering kembali. Aku lupa jika tadi meninggalkan rumah tanpa mengangkat panggilan itu. Tanganku bergegas meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada empat belas panggilan tak terjawab dari nomor yang tak kukenal. Hatiku mencelus. Jantungku tiba-tiba berdegup tidak karuan.
Sebuah pesan masuk. Jemariku bergetar membukanya. Benar, aku harus segera ke rumah sakit.
Nadhila Hibatul Naskaputri, perempuan Gunungkidul yang menyukai senja dan kerlip lampu kota. Pernah mengenyam pendidikan formal di prodi Sastra Indonesia UNY dan prodi Magister Sastra UGM. Saat ini berprofesi sebagai editor lepas merangkap peneliti sastra yang memfokuskan kajiannya pada interteksualitas, ekofeminisme sastra, dan ekologi sastra. Kabarnya bisa di tengok di Instagram @nadhilaputri21 (087876119295).
LANGGANAN